Kasus 6
SD Jatingaleh tempat Pak Barkah mengajar
merupakan sekolah yang sangat mendukung kreatifitas guru berinovasi dalam
pembelajaran. Sekolah akan mudah memberikan dana kepada guru yang ingin
berinovasi. Pak Barkah adalah guru kelas V. Di kelas ada dua aquarium kecil
berbentuk balok dengan ukuran 60 cm x 40 cm x 30 cm dan berbentuk kubus dengan
ukuran 40 cm x 40 cm x 40 cm. Kedua aquarium sementara ini digunakan untuk
menyimpan alat-alat permainan bola ping-pong.
Sekolah
juga memiliki 100 buah kubus yang terbuat dari kayu yang berukuran 1 dm3
dan tersimpan di gudang.
Dalam
pembelajaran matematika tentang volum kubus dan balok, Pak Barkah membawa dua
alat peraga yang terbuat dari karton berbentuk balok dengan ukuran 30 cm x 20
xm x 10 cm dan kubus dengan ukuran 20 cm3. Uraian berikut adalah
proses pembelajaran yang dilakukan Pak Barkah.
Sambil
memegang karton berbentuk balok, Pak Barkah bertanya kepada siswa: “Benda
ini berbentuk apa? “ Para siswa:
“Kotak, pak” Pak Barkah: “Anak-anak yang akan kita
pelajari adalah volum kubus dan balok, jadi benda yang saya pegang ini
berbentuk apa?” “Kubus, pak” “Balok,
pak” Pak Barkah: “Bagus, jawaban
kalian benar”. Kemudian Pak Barkah menjelaskan panjang tulang pada kubus
sama semua dan dinamakan rusuk. Akan tetapi untuk balok, panjang rusuk sama
hanya bagi rusuk yang sejajar saja. Lalu Pak Barkah menggambar balok dan kubus
dan memberi nama rusuk-rusuknya serta menjelaskan rumus bolum kubus dan balok.
Berikutnya
Pak Barkah memberi contoh soal cara menghitung volum kubus dan balok sebanyak
tiga soal dengan ukuran berbeda. Dalam proses pembelajaran, semua siswa
mencatat semua yang ditulis Pak Barkah, namun ada beberapa siswa yang
mencatat sambil berbicara tentang topik lain dengan temannya. Pak Barkah tidak
mempersoalkan hal itu karena pembicaraan mereka tidak keras dan tidak berisik.
Pak Barkah merasa pembelajaran yang dilakukannya tidak mampu membuat seluruh siswa
berkonsentrasi pada pelajaran. Setelah pak Barkah memberi pekerjaan rumah,
Pak Barkah merapikan situasi kelas dan menyimpan alat tulis dan alat peraga
yang dibawanya. Pelajaran diakhiri dengan salam dan Pak Barkah meninggalkan
kelas.
Pertanyaan:
1.
Identifikasi lima kelemahan Pak Bartkah yang dapat mengakibatkan masalah dalam
pembelajarannya.
2.
Menurut Jerome S. Bruner proses belajar dilihat dari sisi perkembangan kognitif
terbagi dalam tiga tahapan, yaitu Enaktif (sama dengan tahap sensori motor dari
Piaget), Ikonik atau tahap gambar bayangan (sama dengan tahap pra operasional
dari Piaget) dan Simbolik (sama denan operasi konkret dan formal dari Piaget)
a.
Jelaskan tiga tahapan belajar J.S. Bruner tersebut.
Ada
tiga tahap pembelajaran menurut Bruner, yaitu:
1.
Tahap Enaktif (Konkret)
Tahapan
ini bersifat manipulatif (Dahar, 2011:78). Dalam hal ini seseorang mengetahui
suatu aspek kenyataan tanpa menggunakan pikiran atau kata-kata dimana dalam
proses belajarnya menggunakan atau memanipulasi obek-objek secara langsung.
Tahapan ini berkaitan dengan bagaimana seseorang melakukan sesuatu dan
serangkaian tindakan dalam mencapai suatu hasil (Kristinsdottir, 2008). Dimana
tindakan tersebut merupakan aktivitas-aktivitas yang dilakukan seseorang
(seperti melalui gigitan, sentuhan, pegangan, dan sebagainya) dalam upaya
memahami lingkungan sekitar.
Contoh:
Ø Dalam
pembelajaran materi penjumlahan dua bilangan cacah, guru menyuruh siswa
menggabungkan 3 mangga dengan 2 mangga kemudian menghitung banyaknya semua
kelereng tersebut.
Ø Seorang
anak yang mengatur keseimbangan timbangan dengan jalan menyesuaikan kedudukan
badannya walaupun anak itu mungkin tidak dapat menjelaskan prosedurnya
(Wiranataputra, 2008:3.16).
Ø Seorang
anak dapat berjalan walaupun belum mengetahui bagaimana seseorang dapat
berjalan.
2.
Tahap Ekonik (Semi Konkret)
Berdasarkan
pada pikiran internal (Dahar, 2011:78). Pada tahap ini menyatakan bahwa
kegiatan anak-anak mulai menyangkut mental yang merupakan gambaran dari
objek-objek, dimana seseorang memahami objek-objek melalui gambar-gambar atau
visualisasi verbal. Dalam hal ini anak tidak lagi memanipulasi objek secara
langsung, melainkan dengan menggunakan gambaran dari objek tersebut.
Contoh:
Pada saat pembelajaran matematika materi penjumlahan bilangan cacah, guru
memberikan contoh dua mangga ditambah dua mangga. Dalam hal ini guru tidak lagi
harus menunjukkan buah mangga secara nyata, akan tetapi bisa juga menggunakan
gambar.
3.
Tahap Simbolik (Abstrak)
Berdasarkan
pada sistem berpikir abstrak, arbitrer dan lebih fleksibel (Dahar, 2011:78).
Dalam tahap ini anak memanipulasi symbol-simbol secara langsung dan tidak ada
kaitannya dengan objek-objek.pada tahapan ini anak telah mencapai transisi dari
tahap ekonik ke tahap simbolik yang diasarkan pada system berpikir abstrak dan
lebih fleksibel. Pada tahapan ini dapat dikatakan bahwa seseorang telah mampu
memiliki ide-ide atau gagasan-gagasan abstrak yang sangat dipengaruhi oleh
kemampuannya dalam berbahasa logika. Dalam pemahamannya, seseorang belajar
mealui symbol bahasa, logika, matematika dan sebagainya. Komunikasi pada
tahapan ini menggunakan banyak system symbol. Walaupun begitu, bukan berarti
dalam tahapan ini seseorang masih menggunakan system enaktof dan ikonik.
Contoh:
Pada saat pembelajaran matematika materi penjumlahan bilangan cacah, guru tidak
lagi memberikan contoh berupa gambar, melainkan sudah menggunakan symbol
seperti 1+2 = 3.
b. Bagaimana mengajarkan konsep ‘volum balok dan kubus’ sesuai dengan tahap
enaktif, ikonik dan simbolik yang memperlihatkan proses pembelajaran yang
mengaktifkan siswa dengan metode penemuan, memanfaat aquarium dan kubus kayu
untuk menemukan konsep volum kubus dan balok.
1)
Untuk menentukan volume dari kubus yang sisinya
40 cm, Pertama-tama yang harus dilakukan
memilih kubus satuan yang berukuran 10 cm. Kemudian tutupi alas dari kubus yaitu
kubus ABCD. EFGH dengan kubus satuan. Untuk menutupi alas tersebut diperlukan 4
x 4 = 16 kubus satuan. Yaitu 4 lajur yang masing-masing lajur terdiri dari 4
satuan.
Sedangkan untuk memenuhi kubus
ABCD.EFGH dengan kubus satuan, memerlukan 4 lapisan yang masing-masing terdiri
dari 16 kubus satuan. Dengan demikian kubus satuan yang diperlukan adalah
4x4x4= 64 buah. Jadi volume dari kubus ABCD.EFGH tersebut adalah 64 cm³
Dugaannya adalah volume dari
kubus yang sisinya berukuran s cm adalah s³ cm³. Dugaan tersebut dinyatakan
dalam teorema volume dari kubus yang sisinya berukuran s satuan panjang adalah
s³ satuan panjang kubik yang ditulis dengan simbol V=s³
Untuk menyederhanakan
pembuktian pertama-tama alas kubus ABCD.EFGH yaitu daerah kubus yang ditutup
dengan beberapa kubus satuan. Ternyata masing-masing lajur terdiri dari s buah
kubus centimeter. Jadi untuk menutupi alas kubus ABCD.EFGH diperlukan s² kubus
centimeter. Akhirnya untuk memenuhi kubus ABCD.EFGH itu diperlukan s lapisan
yang masing-masing lapisan terdiri dari s² kubus centimeter. Dengan demikian,
volume dari kubus ABCD.EFGH adalah s x x²
= s³buah kubus satuan. Selanjutnya karena volume dari kubus itu adalah
cm³ maka volume dari kubus ABCD.EFGH adalah s³ cm ³
2)
Menentukan volume balok yang panjang, lebar dan
tingginya berturut-turut adalah 60 cm, 40 cm, 30 cm. Pertama-tama tutupi alas
balok tersebut dengan kubus-kubus satuan. Untuk itu membutuhkan 6 lajur yang
setiap lajur terdiri dari 3 buah kubus
satuan. Berarti diperlukan 6x 3 = 18 buah kubus satuan. Selanjutnya untuk
memenuhi balok tersebut harus membuat 4 lapisan yang setiap lapisan terdiri
dari 18 buah kubus satuan. Jadi untuk memenuhi balok tersebut diperlukan kubus
satuan sebanyak 2 x 18 = 2 x ( 6x 3) = 2 x 6 x 3 = 36. Oleh karena itu volume
kubus dari satuan 1 cm³ maka volume dari balok adalah
36 x 1 = 36 cm³
1 komentar so far
Warning!! SPAM has been detected!
EmoticonEmoticon